Senin, 11 Agustus 2025

Cerita Devi Purnayanti SMAN 1 Sangatta Selatan Asah Skill hingga Cuan di Dual Track

 Cerita Devi Purnayanti SMAN 1 Sangatta Selatan Asah Skill hingga Cuan di Dual Track



Devi Purnayanti, satu dari sekian siswa SMAN 1 Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur yang mengikuti program Dual Track keterampilan tata boga. 

Berawal dari ketertarikannya terhadap bidang kuliner dan tata boga, gadis 16 ini mendaftarkan diri mengikuti program hasil kerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu. Ia melihat, di program ini memberikan fasilitas lengkap, baik berupa alat-alat memasak maupun pelatihan. 

"Saya berpikir bisa berkembang ikut ini, karena peralatannya lengkap. Dari sini saya ikut tata boga," ungkap Devi saat diwawancara, Minggu, 10 Agustus 2025. 

Tidak hanya soal alat, menurutnya program ini memberikan pelatihan lengkap, mulai dari pembuatan produk, pengemasan dan penyajian menarik, serta bagaimana mengembangkan usaha kuliner.  

Selama mengikuti program, siswi kelas XI itu sangat menyukai proses pembuatan brownis dan amplang. Pasalnya, brownis banyak diburu konsumen dan cepat laku. Di samping itu, brownis memiliki tampilan cantik dan menggiurkan. 

"Kalau amplang emang sekolah punya branding, ada amplang ceria dan amplang pelangi. Jadi saya suka buat amplang karena produksinya nggak terlalu susah untuk kami yang masih sekolah," ungkapnya. 

Devi dikenal jago membuat amplang,  jajanan khas Kalimantan Timur berbahan dasar ikan itu. Dia mengaku, amplang memiliki sisi menarik yang bisa dikreasikan dengan warna-warna lucu. 

"Awalnya cuma bikin amplang ceria, bentuknya sama kaya amplang-amplang lain. Tapi di sini saya variasi dengan warna-warna yang bikin saya suka, karena lucu," tutur Devi. 

Ia bercerita, sebelum mengikuti program ini sudah mahir membuat beberapa jenis jajanan. Setelah mengikuti Dual Track, dia jadi lebih mengetahui bagaimana makanan tersebut hasilnya sempurna, bagaimana cara mengemasnya sampai proses mengelola usaha.

"Dulu coba-coba untuk diri sendiri, sekarang sudah tahu cara menjualnya," kata gadis asal Kutai Timur ini. 

Dengan tegas, dia juga mengatakan bahwa dari awal sangat menyukai proses menjual produk. Dia tidak merasa malu atau ragu untuk menjajakan dagangannya pada teman-teman sekolah dan lingkungan sekitar. Bahkan, dia semangat apabila ada bazar dan sesekali menjual sendiri produk buatannya. 

"Sama sekali saya nggak malu atau gimana, malah saya semangat nawarin ke adik kelas atau kakak kelas. Karena memang suka," ucapnya. 

Dari situ, dia bisa menambah uang saku sekitar Rp50.000 per hari untuk penjualan 15 pcs risol atau lumpia. Jumlah ini bergantung pada jumlah dan jenis jajanan yang dijual. 

"Saya berterima kasih dengan adanya Dual Track karena memberikan pengembangan yang baik untuk diri sendiri dengan cara mengembangkan keterampilan usaha dan skill. Orang tua saya juga senang sekali ketika saya ikut Dual Track, karena saya sudah punya jiwa usaha, yang mungkin bermanfaat bagi ke depannya," pungkas gadis yang bercita-cita sebagai psikolog itu.

Bazar Dual Track SMAN 1 Kongbeng Kabupaten Kutai Timur Ramaikan Festival Budaya Ufah

 Bazar Dual Track SMAN 1 Kongbeng Kabupaten Kutai Timur Ramaikan Festival Budaya Ufah



Dual Track SMAN 1 Kongbeng Kabupaten Kutai Timur turut memeriahkan Festival Budaya Ufah. Festival adat ini berlangsung dari Sabtu, 9 - 18 Agustus 2025. 

Di festival ini, para siswa yang tergabung dalam program Dual Track keterampilan tata boga, tata rias, dan multimedia menawarkan produk-produk unggulannya. Seperti aneka makanan dan minuman, pernak-pernik aksesoris khas Festival Ufah sampai buket bunga.

Trainer keterampilan multimedia, Sahir Laupe, mengatakan bahwa pihaknya mengerahkan dua Kelompok Usaha Siswa (KUS) dari total 5 KUS untuk menjaga stand setiap hari selama festival berlangsung. KUS tersebut saling bergantian menawarkan produk-produk unggulan Dual Track mulai sore hingga malam hari. 

"Kami bagi per KUS, jadi setiap hari yang jaga stan 2 KUS. Dengan KUS berbeda-beda setiap hari kebetulan multimedia ada 5 KUS. Pembukaan ini semua KUS saya kerahkan, mulai besok sudah terbagi-bagi, hanya pembukaan dan penutupan semua berkontribusi," jelas Sahir, Sabtu, 9 Agustus 2025. 

Bersama dengan UMKM setempat, mereka menjajakan produk unggulannya. Ada pin, mug custom, kaos sablon, dan gantungan kunci. Para siswa, ungkapnya, sangat antusias menawarkan berbagai produk dan memperlihatkan keahlian mereka pada pengunjung di Festival Ufah.

Karena itu, Sahir sengaja tidak menawarkan kaos sablon siap jadi pada pengunjung yang datang. Tetapi membiarkan mereka melihat bagaimana proses produksi kaos sablon yang dilakukan oleh para siswa.

"Pengunjung kami sediakan desainnya, nanti kami buat langsung di tempat. Pengunjung memilih sendiri, siswa kami langsung action di tempat disaksikan masyarakat setempat," terangnya.

Sementara mug custom, siswa sudah menyediakan sebagian produk jadi di acara pembukaan. Setelah itu, pengunjung bisa request sesuai permintaan. Untuk harga kaos sablon, ia menyebut, harga yang dibanderol Rp120.000 per pcs, mug custom Rp50.000, dan pin sekitar Rp5.000-10.000. 

"Pengunjung itu banyak yang minta baju custom ada tulisan Festival Ufah dengan ukiran dan bahasa Dayak Kayan. Mereka tinggal menunjuk yang mana karena modelnya sudah kami print sebelumnya Mereka seneng apalagi custom ada foto mereka," ujarnya

Sehari berjualan di Festival Ufah, keterampilan multimedia sudah mengantongi omzet Rp850.000 dari kaos dan mug. Ke depannya, Sahir mengatakan bahwa selama festival ini berlangsung ia berharap ada 50 baju dan 3 lusin mug terjual.

"Puncak projek kami nanti ada di harlah ulang tahun sekolah, awal September besok. Multimedia nanti mencetak baju untuk alumni dan siswa sekitar 300 pcs. Omzet kami targetkan Rp30 jutaan bulan depan," pungkas guru Prakarya SMAN 1 Kongbeng itu.

Septania Lula Lahang, siswi kelas XI SMAN 1 Kongbeng merasa senang ikut bertugas menjaga stand. Dia membeberkan banyak pengunjung yang datang karena penasaran dengan karya dan tampilan stand SMAN 1 Kongbeng yang unik 

"Stand DT cukup rame apalagi di jam-jam sore pas suasananya lagi ramai. Aku senang banget bisa ikut jaga, bisa ngobrol sama banyak orang yang mampir dan kerja bareng tim. Suasananya seru dan nggak kerasa capeknya," ungkap Lula, gadis 16 tahun itu. 

Sementara itu, Fasilitator Dual Track SMAN 1 Kongbeng, Nurhasanah menambahkan, antusiasme para siswa dan trainer menyambut Festival Ufah luar biasa. Sejak awal pembukaan, mereka bergegas mendaftarkan diri dan berhasil mendapatkan satu stand dari panitia. Dan, berjualan secara bergantian setiap KUS mulai pukul 09.00-22.00 WITA di hari pertama, dan 15.00 - 22.00 WITA hari selanjutnya. 

"Tapi dengan inisiatif sendiri kami mengajukan untuk pasang tenda sendiri sehingga kami punya 2 tenda stand bazar dalam acara ini," imbuh Shana. 

Dari sini, Dual Track SMAN 1 Kongbeng berhasil meraup total omzet Rp2.621.000 di hari pertama jualan. Bahkan, Sekretaris Badan Pengurus Jemaat GKII Miau Baru, Apolos Balang, sempat mengunjungi stand DT dan membeli produk dagangannya. Ia membeli 3 mug custom dan 1 kaos sablon khas Festival Ufah. 

"Ini bagus sekali, kreativitas yang perlu ditingkatkan. Saya pesan 1 (kaos) karya anak-anak kita di SMA," ungkap Apolos dalam sebuah potongan video dokumentasi SMAN 1 Kongbeng. (*)

Minggu, 10 Agustus 2025

Siap Jadi Oleh-Oleh Khas IKN, Produk Dual Track SMAN 1 Sangatta Selatan Lengkapi Sertifikat Halal

Siap Jadi Oleh-Oleh Khas IKN, Produk Dual Track SMAN 1 Sangatta Selatan Lengkapi Sertifikat Halal



Produk Dual Track SMAN 1 Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur siap menjadi oleh-oleh khas IKN dan memperluas jangkauan pasar, khususnya wilayah Kalimantan Timur, dengan sertifikasi halal. 

Ini disampaikan Kepala SMAN 1 Sangatta Selatan, Rubito, yang mengatakan bahwa pihaknya tengah mengajukan produk tersertifikasi halal pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) Provinsi Kalimantan Timur. 

"Kami merencanakan produk tersertifikasi halal yang siap dipasarkan secara luas di wilayah Kaltim dan menjadi oleh-oleh khas IKN," jelas Rubito, Sabtu, 9 Agustus 2025. 

Proses pengajuan ini, tambahnya, melalui system atau aplikasi dengan pendampingan tim yang direkomendasikan oleh PT Kaltim Prima Coal sebagai perusahaan mitra sekolah. 

Ia menyebut, ada beberapa produk dalam tahap pengajuan sertifikasi halal. Yakni, ice cream baday, pangsit baday, stick baday, brownies, telur gabus, kripik singkong, banana chips chocolate, amplang ceria, dan amplang pelangi. Produk-produk tersebut hasil karya siswa-siswi yang tergabung dalam program SMA Dual Track.

Sementara itu, Trainer Tata Boga program Dual Track, Halimatussyakdiyah menambahkan, pihaknya juga tengah mencari informasi terkait pengajuan PIRT pada produk mereka. Upaya ini tak lain agar produk lebih legal dan memenuhi syarat edar di masyarakat. 

"Kemarin kami sudah menanyakan proses pengajuannya, kemungkinan akan mengajukan PIRT," kata guru ekonomi SMAN 1 Sangatta Selatan itu.

Ini adalah tahun kedua SMAN 1 Sangatta Selatan mengikuti Dual Track, program yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk mengurangi angka pengangguran di tingkat SMA. 

Diyah menyebut, ada 15 Kelompok Usaha Siswa (KUS) yang terdiri dari 75 siswa. Mereka  membuat berbagai produk unggulan yang berkualitas di pasaran, seperti  bolu baday, pangsit baday, es lumut, es kopi, brownies, snack box, nasi box, dan lain sebagainya. (*)

Dual Track Tata Boga SMAN 1 Sangatta Selatan Sukses Raup Puluhan Juta Lewat Produk Unggulan

 Dual Track Tata Boga SMAN 1 Sangatta Selatan Sukses Raup Puluhan Juta Lewat Produk Unggulan



Program Dual Track SMAN 1 Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur sukses meraup puluhan juta lewat produk-produk unggulan hasil tangan para siswa. 

Mereka memproduksi berbagai macam makanan dan minuman, seperti stick baday, pangsit baday, bolu baday, nasi box, dimsum goreng, dan sebagainya. Dari penjualan itu, mereka bisa mengantongi omzet sekitar Rp50 juta hingga Juli kemarin. 

"Omzet tahun ini dari Februari-Juli akhir sekitar 50-60 juta," beber Trainer Tata Boga SMAN 1 Sangatta Selatan, Halimatussyakdiyah, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Diyah, sapaan akrabnya, mengatakan ini adalah tahun kedua SMAN 1 Sangatta Selatan mengikuti program Dual Track. Program kolaborasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 

Tahun pertama, dia dan para siswa banyak membuat jajanan berbahan baku bawang dayak (baday) alias bawang tiwai. Bawang tiwai tersebut diolah menjadi jajanan lezat dengan rasa yang khas. 

"Kami di sini juga menanam bawang dayak. Kami mengolahnya jadi berbagai macam makanan," terang Diyah.

Jajanan berbahan baku bawang dayak ini, katanya, termasuk kategori best seller. Terlebih diolah menjadi es krim bawang dayak.

Guru ekonomi SMAN 1 Sangatta Selatan ini mengungkap, banyak orang penasaran dengan rasa bawang dayak. Karena itulah olahan bawang dayak menjadi buruan. 

"Mereka berpikir rasanya seperti bahan masakan, sekalinya tidak seperti itu," jelasnya. 

Es krim baday misalnya, tetap memiliki rasa khas bawang dayak tetapi  tidak terlalu pekat. Variannya pun beragam, ada es krim jahe, es krim bawang dayak jahe merah (baday jamer), dan 2 rasa  baru yang masih dalam proses produksi.

Dari penjualan produk olahan bawang dayak ini,  para siswa tata boga Dual Track SMAN 1 Sangatta Selatan bisa meraup Rp90 juta.

Sementara tahun ini, mereka menambah produk yang tak kalah unggul, yakni amplang, keripik pisang, keripik singkong, brownis, dan es kopi best seller. Produk tersebut ia pasarkan di lingkungan sekitar, media sosial,  dan aktif mengikuti bazar-bazar.

"Kami juga ada jajanan tradisional kaya risoles dan snack box. Itu tergantung permintaan, kalau ada yang pesan kami buatkan," katanya. 

Ia mengungkap bahwa para siswa diberikan bantuan alat dari program Dual Track. Alat-alat itu seperti 4 buah mesin kopi, 4 oven, kulkas, 60 kompor, mixer, pemotong roti, alat cetak mie, panci, dan lainnya. Bantuan ini sangat memudahkan mereka dalam memproduksi berbagai makanan maupun minuman. 

"Respons anak-anak sangat baik, banyak yang memilih tata boga. Progresnya yang awalnya nggak bisa jadi bisa karena ada pelatihan. Yang awalnya malu-malu jadi nggak malu," beber Diyah. 

Terlebih apabila ada bazar, para siswa dilatih untuk memasarkan langsung di lapangan oleh kepala sekolah dengan membagi jadwal  pada setiap Kelompok Usaha Siswa (KUS).

Di samping itu, Fasilitator Dual Track, Dewi Meizun menambahkan bahwa SMAN 1 Sangatta Selatan memiliki empat keterampilan yang diajarkan pada para siswa. Ada multimedia, tata boga, tata busana, dan kecantikan. 

Masing-masing keterampilan membuat produk unggulan. Kecantikan atau tata rias contohnya, membuat bedda lotong, lulur khas Bugis dan parfum. 

"Alhamdulillah sudah kami pasarkan dan banyak pesanan. Kami juga membuka jasa make up," imbuhnya. 

Ia membeberkan, meski di tahun pertama peralatan terbatas, tetapi semangat peserta didiknya tidak padam. Terlebih di tahun kedua ini SMAN 1 Sangatta Selatan mendapatkan banyak bantuan alat dari  program Dual Track. 

"Siswa yang sudah lulus Dual Track malah ingin ikut lagi. Kami fasilitasi mereka, yang ingin berlatih lagi kami jadikan asisten trainer bagi adik-adiknya," jelas guru matematika ini. 

Melihat hal ini, Kepala SMAN 1 Sangatta Selatan, Rubito merasa bangga. Pasalnya, ini bisa jadi daya ungkit prestasi akademik dan non akademik peserta didiknya. 

"DT sejalan dengan visi sekolah, yakni mewujudkan lulusan yang tangguh, literat, berkarakter, dan berjiwa entrepreneur. Harapannya bisa jadi media belajar murid kami untuk memiliki jiwa kemandirian terutama kewirausahaan, sehingga semakin bangga bersekolah di SMAN 1 Sangatta Selatan," tutupnya. (*)

Jumat, 08 Agustus 2025

Strategi Kurikulum 5S PERVEKT, Ciptakan Entrepeneur Muda Kurangi Angka Pengangguran di Jawa Timur

 


Strategi Kurikulum 5S PERVEKT, Ciptakan Entrepeneur Muda Kurangi Angka Pengangguran di Jawa Timur

Program Entrepeneur Vokasi Kreatif Terpadu (PERVEKT) 2025 menerapkan strategi kurikulum 5S yang mendorong lahirnya entrepreneur muda untuk mengurangi angka pengangguran di Jawa Timur.

Strategi ini, jelas Program Development PERVEKT, Arya Yudhi Wijaya, menekankan pada gerakan atau praktik. Dengan kata lain, cara ini mengajarkan bagaimana menggiatkan wirausaha tidak hanya sebagai teori tapi sampai membentuk unit-unit usaha mini. 

"Ini akan memacu siswa bagaimana cara mencreate produk, memasarkan, mengelola hingga melakukan scale up usaha. Jadi ditekankan gerakan praktik berwirausaha," terang Arya dalam acara Kick of Program PERVEKT SMK 2025, Senin, 21 Juli 2025. 

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa strategi 5S tersebut terdiri dari, Siap, Seleksi, Standardisasi, Showcase, dan Scalling. Tahap pertama, Siap, berarti membangun pola pikir (mindset) wirausaha pada setiap siswa. Mereka akan diajarkan konsep dan membentuk mental wirausaha. 

Pada tahap kedua, Seleksi, siswa diajarkan menyeleksi produk atau jasa yang bisa dijadikan komoditas wirausaha. Di dalamnya mereka akan belajar proses brandstorming dan pembuatan Bussiness Model Canvas (BMC) hingga bisa menjual produk atau jasa tertentu. 

"Disarankan sesuai jurusan. Tapi topik kita adalah wirausaha, jadi bisa sesuai atau tidak yang penting bisa membuat kelompok rintisan usaha sehingga menghasilkan transaksi," katanya. 

Selanjutnya, Standardisasi, para siswa belajar mengenal dan memahami standar sebuah produk atau jasa. Strategi ini penting diajarkan agar produk-produk yang dihasilkan layak jual. 

"Misalnya kalau kue kering itu perlu mengurus izin apa saja, usaha saja apa saja yang harus diurus. Ini harus kita berikan sehingga ketika dijual sudah sesuai standar," imbuh Arya. 

Showcase, para siswa berlatih bagaimana cara memasarkan produk atau jasa yang sudah dibuat. Tahap ini, siswa belajar membranding produk, termasuk melalui platform digital seperti marketplace. 

Sementara Scalling, adalah peningkatan kapasitas usaha. Para siswa yang sudah memiliki produk atau jasa dan mengerti cara memasarkan dengan baik, akan belajar bagaimana usaha tersebut meningkat. Salah satu indikatornya adanya repeat order dari konsumen.

"Kalau sudah terkonsep, bagaimana agar terjadi repeat order oleh konsumen sehingga produk berkembang. Setelah mereka lulus, ketika dilakukan study tracer SMK tidak lagi menjadi penyumbang pengangguran terbesar. Mereka bisa mandiri," pungkas Arya.

Informasi tambahan, PERVEKT merupakan program hasil kolaborasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk menekan angka pengangguran di tingkat SMK. 

Tercatat ada 80 sekolah piloting dari 37 kabupaten/kota yang bergabung dalam program ini. Dan, ada sekitar 4.800 siswa SMK yang dibina. (*)




Bangun Lebih dari 50 Unit DT Mart, Program Double Track Fokus Kembangkan Layanan dan Penyerapan Tenaga Kerja

Bangun Lebih dari 50 Unit DT Mart, Program Double Track Fokus Kembangkan Layanan dan Penyerapan Tenaga Kerja




Program Double Track membangun lebih dari 50 unit DT Mart di berbagai SMA penyelenggara di Jawa Timur pada 2025. Capaian ini menjadi langkah strategis untuk memperluas layanan usaha, membuka lapangan kerja baru, dan mendorong lulusan menjadi wirausaha mandiri.

“Fokus saat ini adalah DT PLUSK, Pusat Layanan Usaha dan Kerja yang memastikan lulusan SMA Double Track memiliki peluang kerja lebih luas,” kata Program Development Double Track, Fajar Baskoro, Jumat, 8 Agustus 2025.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, DT Mart kini mengalami perkembangan cukup pesat. Fajar mengungkapkan, DT Mart mulai menggunakan sistem kasir digital dan e-catalog untuk mempermudah pengelolaan serta transaksi.

DT Mart juga telah menjalin kemitraan dengan UMKM lokal sebagai distributor atau reseller. “Produk-produk DT Mart mulai dipasarkan secara online, termasuk melalui marketplace sekolah dan media sosial,” imbuhnya.

Selain itu, muncul komunitas sekolah model antar-SMA, di mana format bisnis dan branding DT Mart diduplikasi ke sekolah lain dengan standar yang sama.

Tidak berhenti pada pengembangan DT Mart, program ini juga membentuk pusat layanan kerja dengan menyediakan job marketplace berbasis digital untuk menghubungkan lulusan dengan perusahaan mitra.

Pihaknya juga menyusun profil portofolio digital lulusan guna memudahkan proses rekrutmen. Dengan cara ini, ditambah kolaborasi bersama industri, diharapkan terbuka peluang magang yang berujung pada rekrutmen.

“Kami memiliki pusat layanan usaha yang mendorong setiap KUS mengembangkan unit usaha mandiri dengan pendampingan dari DUDI dan DT Mart. Harapannya, KUS bisa menjadi pemasok produk yang dijual di DT Mart,” ungkap dosen ITS tersebut.

Dalam pusat layanan usaha, para siswa terus didorong melalui pelatihan entrepreneurship dan digital skills untuk menciptakan wirausaha muda.

Pelatihan ini dilakukan berbasis konsep 3P, yakni pusat pelatihan keterampilan, pengembangan produk, dan pemasaran hasil.

Pihaknya juga memberikan akses permodalan mikro bagi alumni SMA Double Track yang ingin memulai usaha mandiri.

Dengan begitu, program DT PLUSK diharapkan dapat menghasilkan siswa dan alumni yang tumbuh serta berkembang secara mandiri.

Program Double Track, tambahnya, tahun ini memiliki podcast Jejak Entrepreneur dalam Memulai Usaha (Jendela). Podcast tersebut diluncurkan sebagai bagian dari inovasi komunikasi dan literasi publik terhadap program Double track. 

"Tujuannya menyuarakan cerita inspiratif siswa SMA yang ikut Double Track dan media pembelajaran alternatif tentang kewirausahaan serta menjangkau masyarakat luas mengenai potensi siswa DT," jelas Fajar. (*)

https://sman1soko.sch.id/peresmian-dt-mart-lestari-sman-1-soko-dorong-inovasi-dan-kewirausahaan-siswa/

Dorong Kesetaraan Akses Teknologi dan Inklusivitas Pendidikan, Program Digital Skills Sasar Kelompok Disabilitas

Dorong Kesetaraan Akses Teknologi dan Inklusivitas Pendidikan, Program Digital Skills Sasar Kelompok Disabilitas



Demi mendorong kesetaraan akses teknologi dan inklusivitas pendidikan, program Digital Skill mulai menyasar kelompok disabilitas. Ini disampaikan Ketua Program Digital Skills, Fajar Baskoro, Jumat, 8 Agustus 2025. 

Dalam keterangan tertulisnya, Fajar mengatakan, kelompok disabilitas seringkali tertinggal karena adanya keterbatasan akses, fasilitas maupun pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Padahal, dunia kerja dan industri digital saat ini membuka peluang besar bagi siapapun untuk berkarya.

Oleh karena itu, program hasil kolaborasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, dan UNICEF ini memberi kesempatan bagi kelompok disabilitas agar tetap bisa berkarya dengan sistem pembelajaran inklusif, adaptif, dan memberdayakan. 

"Programnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing jenis disabilitas. Serta, didukung teknologi asistif seperti screen reader, subtitle otomatis atau antarmuka yang ramah disabilitas," ujarnya. 

Dosen Teknik Informatika ITS ini menyebut, sasaran disabilitas yang mengikuti program, yakni disabilitas sensorik (tuna netra dan tuna rungu), disabilitas fisik (pengguna kursi roda), dan disabilitas intelektual ringan. 

"Disabilitas intelektual ringan ini mereka yang masih dapat mengikuti pelatihan berbasis praktik dan teknologi sederhana," tambahnya. 

Di program ini, kata Fajar, para siswa dan guru pendamping dibekali modul dengan pendekatan ramah disabilitas dan berfokus pada potensi peserta didik. Sehingga mereka bisa belajar mengenal, memahami, dan menguasai keterampilan dasar digital secara bertahap dengan metode menyenangkan. 

Tidak hanya itu, modul tersebut berpedoman pada orientasi kehidupan nyata. Artinya, materi yang disajikan tidak bersifat teoritis semata, melainkan aplikatif dan kontekstual dengan kehidupan siswa. Serta, mendorong adanya kolaborasi antara guru dan orang tua untuk mendukung pembelajaran yang interaktif. 

Menariknya, pengajaran teknologi program ini juga berpedoman pada prinsip desain inklusif. Pendekatan ini menempatkan  keberagaman kemampuan sebagai dasar dalam merancang pengalaman belajar. 

Ia menambahkan, desain inklusif bukan berarti membuat versi khusus untuk anak-anak berkebutuhan. Tetapi, pendekatan yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang bisa diakses semua siswa tanpa perlu banyak penyesuaian tambahan. 

Dengan begitu, pendekatan ini diharapkan bisa meniadakan hambatan dan membuka akses seluas-luasnya bagi setiap peserta didik. 

"Kami menyadari bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berdaya dan berkarya.

Sebaliknya, dengan dukungan lingkungan belajar yang tepat, siswa dengan disabilitas

dapat tampil sebagai pengguna aktif dan bahkan pencipta solusi digital," tandas Fajar.

Salah satu trainer Digital Skill, Debby Synthia Sari mengaku sangat bersyukur bisa bergabung dengan program ini. Pasalnya, guru Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Anak Panah Kota Surabaya ini bisa memberikan pemahaman kepada anak didiknya apa itu teknologi dan media sosial. 

"Secara skill anak-anak perlu dilengkapi di era digital seperti ini. Sehingga mereka yang punya akademis kurang, bisa terlatih skill mereka," ungkap Debby.

Begitu juga Ibanez Devon W, siswa Digital Skills PKBM Anak Panah ini menceritakan sebelumnya dia adalah sosok pemalu. Namun, setelah mengikuti Digital Skills dia tumbuh menjadi lebih berani. 

"Saya diajari mendesain, membuat poster, dan dari Digital Skills saya jadi pemberani," ungkapnya.

Tidak hanya dari para siswa dan guru, orang tua pun menyambut baik program ini, salah satunya Liana. Dia merasa senang dan mendukung program Digital Skills karena peserta didik akan diberi bekal skill yang bagus. Mulai dari desain, entrepreneurship hingga media sosial. 

"Mereka juga akan mengetahui kejahatan dalam bermedia sosial, mereka tahu cara menghindarinya. Mereka bisa membuat desain-desain untuk jualan mereka, itu bisa menambah income buat ke depan," ujar Liana. (*)

Era Kecerdasan

  Evolusi Orang Pintar Manila, Jumat sore, 05 Desember. Sesi penutup di 11th ADB International Education and Skills Forum itu seharusnya men...