Kamis, 29 Oktober 2026

Artikel Abai Terhadap Data

 


https://docs.google.com/document/d/1kjUaHpeFyB8y_YD2hnxDFhI9mky7PrT7/edit?usp=drive_link&ouid=112365073285716859334&rtpof=true&sd=true

Abai terhadap Data : Mismatch Program Prioritas dan Realitas Manfaat bagi Rakyat

Oleh: Fajar Baskoro, Mahasiswa Program Doktor Ekonomi Universitas Trunodjoyo Madura

Pembangunan sering kali diukur melalui besarnya anggaran, jumlah program yang diluncurkan, dan luasnya cakupan penerima manfaat. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang kerap luput dari perhatian: apakah program pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat yang menjadi sasaran?

Pertanyaan ini relevan ketika kita melihat sejumlah persoalan kebijakan publik belakangan ini. Polemik ketidaktepatan data desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), perdebatan mengenai efektivitas program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam penanganan stunting, hingga belum optimalnya pemanfaatan data spasial untuk pemberdayaan ekonomi daerah memperlihatkan persoalan yang relatif sama: adanya kesenjangan antara desain kebijakan dan realitas kebutuhan masyarakat.

Persoalannya bukan semata-mata kekurangan anggaran atau lemahnya pelaksanaan program. Lebih mendasar dari itu adalah ketidakmampuan membaca data secara tepat sebagai dasar menentukan prioritas pembangunan.

Ketika data administratif mengalahkan realitas sosial

Polemik DTSEN memperlihatkan bagaimana kesalahan membaca data dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat miskin. Sistem desil yang membagi masyarakat ke dalam sepuluh kelompok kesejahteraan digunakan sebagai salah satu instrumen menentukan sasaran bantuan sosial. Namun, muncul keresahan ketika warga yang secara ekonomi masih rentan justru mengalami kenaikan kategori kesejahteraan secara administratif.

Bayangkan seorang tukang becak yang sebelumnya tercatat dalam Desil 1, tiba-tiba masuk Desil 9. Secara administratif, ia seolah mengalami peningkatan kesejahteraan. Namun, secara ekonomi, penghasilannya mungkin tetap tidak menentu dan kebutuhan hidupnya semakin sulit dipenuhi.

Kesalahan semacam ini berkaitan dengan inclusion error dan exclusion error. Kelompok yang sebenarnya tidak layak dapat masuk daftar penerima, sementara masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru tereliminasi.

Dampaknya tidak sederhana. Perubahan status desil dapat memengaruhi akses terhadap bantuan sembako, jaminan kesehatan, hingga beasiswa pendidikan seperti KIP Kuliah. Bagi keluarga miskin, kehilangan bantuan bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan ancaman terhadap keberlanjutan pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar.

Di sinilah pemerintah perlu memahami bahwa data statistik tidak boleh diperlakukan sebagai kebenaran tunggal. Data harus terus diperbarui, diverifikasi, dan diuji dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di lapangan. Pendekatan statistik seperti Proxy Means Test tetap dapat digunakan, tetapi harus dilengkapi mekanisme verifikasi partisipatif dan ruang sanggahan yang mudah diakses masyarakat.

Mismatch program dan sasaran pembangunan

Persoalan serupa terlihat dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Program ini memiliki tujuan penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki asupan gizi, dan mendukung konsentrasi belajar anak. Namun, apabila MBG ditempatkan sebagai instrumen utama percepatan penurunan stunting, muncul pertanyaan mengenai ketepatan sasaran intervensinya.

Secara kesehatan masyarakat, periode paling menentukan pencegahan stunting adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Karena itu, ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi di bawah dua tahun merupakan kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

Sementara itu, pelaksanaan MBG memiliki cakupan besar pada anak usia sekolah. Pemberian makanan bergizi di sekolah tentu memiliki manfaat, terutama untuk mengurangi kelaparan, mendukung konsentrasi belajar, dan membangun kebiasaan konsumsi makanan sehat. Akan tetapi, intervensi tersebut tidak serta-merta dapat memperbaiki kondisi stunting yang telah terbentuk akibat kekurangan gizi kronis pada periode awal kehidupan.

Stunting juga merupakan persoalan multidimensi. Ketersediaan pangan bergizi perlu disertai akses air bersih, sanitasi layak, pelayanan kesehatan, pencegahan infeksi, dan edukasi pola asuh.

Dengan demikian, persoalannya bukan mempertentangkan pentingnya MBG dengan program penanganan stunting. Yang perlu dikritisi adalah ketepatan hubungan antara tujuan, kelompok sasaran, instrumen intervensi, dan indikator keberhasilannya.

Program prioritas seharusnya tidak hanya dinilai dari berapa banyak porsi makanan yang dibagikan atau berapa banyak sekolah yang dilayani. Evaluasi harus menjawab apakah kualitas gizi meningkat, kelompok paling rentan memperoleh manfaat, dan perubahan kesehatan benar-benar terjadi.

Dari data menjadi keputusan pembangunan

Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan membutuhkan perubahan paradigma: dari pendekatan berbasis penyerapan anggaran menuju pendekatan berbasis kebutuhan dan hasil.

Data seharusnya tidak hanya menjadi instrumen administratif untuk menentukan penerima program, tetapi juga menjadi dasar memahami karakteristik persoalan masyarakat. Pemerintah perlu mengintegrasikan data sosial ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan kondisi geografis agar kebijakan lebih tepat sasaran.

Pemanfaatan teknologi geospasial, misalnya, dapat menjadi salah satu alternatif. Data lokasi dan informasi spasial seperti yang tersedia melalui Google Maps dapat membantu pemerintah daerah memetakan kemacetan, akses fasilitas kesehatan, sebaran UMKM, potensi pariwisata, hingga kebutuhan infrastruktur.

Dalam pengembangan ekonomi lokal, pemetaan lokasi UMKM dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kawasan yang memiliki potensi perdagangan, tetapi belum didukung akses pasar dan infrastruktur memadai. Informasi lokasi, ulasan konsumen, serta aksesibilitas dapat digunakan untuk memperkuat pemasaran digital dan memperluas jangkauan usaha mikro.

Demikian pula dalam pelayanan publik. Pemetaan lokasi fasilitas kesehatan, sekolah, dan wilayah dengan akses transportasi terbatas dapat membantu pemerintah menentukan prioritas pembangunan berdasarkan kebutuhan geografis masyarakat.

Namun, teknologi bukan solusi otomatis. Data digital harus tetap dilengkapi survei lapangan, perlindungan privasi, dan validasi kondisi sosial. Tujuannya bukan sekadar membuat peta digital yang menarik, melainkan menghasilkan keputusan yang lebih akurat.

Mengukur manfaat, bukan sekadar popularitas program

Tantangan berikutnya adalah membangun sistem evaluasi yang berorientasi pada manfaat. Selama ini, keberhasilan program pemerintah sering kali lebih mudah dilaporkan melalui indikator administratif: jumlah penerima, besaran anggaran, jumlah kegiatan, dan cakupan wilayah.

Padahal, indikator tersebut belum tentu mencerminkan perubahan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah perlu memperkuat evaluasi berbasis hasil (outcome-based evaluation). Program bantuan sosial harus diukur dari ketepatan penerima dan kemampuannya menjaga daya beli keluarga rentan. Program MBG harus dievaluasi melalui kualitas asupan gizi dan dampaknya terhadap penerima manfaat. Program pemberdayaan UMKM harus dinilai dari peningkatan omzet, produktivitas, akses pasar, dan keberlanjutan usaha.

Perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan masyarakat sipil juga perlu dilibatkan dalam evaluasi independen. Transparansi data dan keterbukaan hasil evaluasi menjadi penting agar publik dapat menilai apakah suatu program layak dilanjutkan, diperbaiki, atau didesain ulang.

Pada akhirnya, pembangunan bukan kompetisi meluncurkan program sebanyak-banyaknya. Pembangunan adalah proses memastikan sumber daya negara digunakan untuk menjawab persoalan yang paling mendesak dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Indonesia membutuhkan kebijakan yang tidak hanya ambisius dalam anggaran, tetapi juga presisi dalam sasaran. Sebab, kesalahan membaca data dapat menghasilkan program yang tampak berhasil secara administratif, tetapi gagal menjawab kebutuhan rakyat.

Pemerintah tidak boleh lebih percaya pada angka di atas kertas daripada kenyataan di lapangan. Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan seberapa besar anggaran yang dibelanjakan, melainkan seberapa tepat kebijakan menjangkau mereka yang membutuhkan dan seberapa nyata manfaatnya dirasakan rakyat.





Media Opini

 








Senin, 26 Oktober 2026

Media Opini

 



Innerheart Studio, Mengekspresikan Emosi Melalui Media Seni

Kelas seni yang digagas sejumlah mahasiswa ISI Surakarta bisa menjadi media untuk terapi seni, membantu generasi muda merawat kesehatan mental.  

Semua berawal dari Program Mahasiswa Wirausaha dari ISI Surakarta. Adinda Cantika Lestari bersama ketiga temannya, yakni Oki Oktaviani, Kenya Ayu, dan Aizza Nur, memutuskan untuk menginisiasi sebuah kelas seni bernama Innerheart Studio.

Menurutnya, pada awal berdiri Innerheart Studio masih sepi peminat, namun berkat konsistensi Adinda dan teman-temannya, Innerheart Studio menjadi wajah baru dalam dunia kelas seni di Solo.

“Sudah ada modal dan sayang [jika tidak diteruskan]. Pengen banget konsisten untuk Innerheart ada, berkembang terus. Setidaknya membuat jadwal untuk Jumat dan Sabtu. Perlahan-lahan aku rutin, rajin tiap minggu,” ujar Adinda kepada Tirto, Rabu (5/2/25).

Adinda juga mengapresiasi teman-teman lainnya yang sudah membantunya dalam membangun Innerheart Studio hingga dapat bertahan dan terus berkembang sampai saat ini.

“Mungkin karena ada internet kami jadi berkembang. Untuk teman-teman influencer di Instagram dan Tiktok aku berterimakasih sama mereka yang bisa membangun Innerheart. Awalnya nggak ada yang beli tapi teman-teman semua share pada suka,” katanya.

Sama seperti kelas seni pada umumnya, kegiatan Innerheart Studio tidak jauh dari workshop dan private art class untuk anak sekolah dasar. Yang berbeda, pada tahun 2023 lalu Innerheart Studio meluncurkan produk bernama Inn-SketchBox yang merupakan gabungan dari konsep live sketch dan photobox yang dapat ditemui di Gatsu Night Market (Solo is Solo) setiap Jumat dan Sabtu.

Awalnya, Adinda memiliki ide untuk membuat artwork stiker dan menggunakan sistem loket. Namun karena artwork stiker sudah dirasa cukup mainstream, ia kembali memutar otak dan mengadopsi konsep live sketch. Di saat yang sama, Adinda melihat menjamurnya tren photobox, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menggabungkan ide-ide tersebut dan terciptalah Inn-SketchBox.

“Akhirnya aku buat Inn-SketchBox. Sekarang makin menjamur live sketch. Tapi aku buat perbedaan dengan [cara] live sketch langsung bersama pelanggan, jadi mereka bisa melihat prosesku [menggambar]. Mereka ada experience dari melihat aku menggambar,” papar Adinda.

“Karena aku mau memanfaatkan skill itu juga biar bisa selaras,” lanjutnya.

Adinda menyebut, eksistensi Innerheart Studio diharapkan dapat menjadi sarana untuk belajar sambil bersenang-senang, serta menambah teman melalui kegiatan-kegiatan yang ada.

“Yang aku pengin adalah kita sama-sama belajar antartutor dan peserta. Sama-sama have fun, terus kami lebih berteman. Kami nggak mungkin rasanya sekali saja [bertemu]. Aku berharap kami bisa bertemu berkali-kali, nggak ada canggung, friendly,” harap Adinda.

Selain itu, yang cukup menarik, Innerheart Studio juga memosisikan diri sebagai tempat rehat atau healing dan bersinggungan dengan kesehatan mental. Adinda tak menampik hal ini, bahkan ia mengungkap ingin menggandeng psikolog profesional.

“Masih tahap perencanaan langkah kecil. Masih mencari-cari orang profesional lain,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai alasan di balik nilai yang Innerheart Studio tawarkan, ia mengatakan hal tersebut berangkat dari melihat dirinya serta orang-orang di sekitarnya yang terkadang lelah dengan rutinitas sehari-hari dan memerlukan waktu sejenak untuk beristirahat.

“Innerheart tempat mereka bisa bersenang-senang sedikit. Mereka mungkin bisa bahagia dengan memberi hadiah ke teman-teman mereka. Atau dengan adanya art class, mereka juga setidaknya bisa ada waktu untuk beristirahat,” terang mahasiswa yang sekarang memasuki semester akhir tersebut.

Sejauh ini, Innerheart Studio mendapat banyak respon positif dari para pengunjung, bahkan sudah sampai di titik di mana Innerheart Studio, khususnya Inn-Sketch Box, menjadi salah satu tempat tujuan orang luar Solo ketika berkunjung. Selain itu, banyak juga yang menantikan kegiatan-kegiatan Innerheart Studio selanjutnya.

“Untuk art class dan workshop alhamdulillah mereka menunggu-nunggu ada suatu kegiatan, walaupun kegiatan ini sangat perlahan dan kadang bentrokan karena kita masih kuliah. Untung saja semua respons positif. Teman-teman yang pernah datang ke Inn-Sketch Box mereka juga ingat kita,” pungkas Adinda.


Seni dan Psikologi Manusia

Yustinus Joko Dwi Nugroho, psikolog klinis Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru, Surakarta, menjelaskan hubungan antara seni dan psikologis manusia dalam art therapy--yang merupakan metode intervensi untuk mengubah kondisi emosi maupun psikologis seseorang dari yang kurang baik menjadi lebih baik melalui kegiatan seni.

Menurut Joko,metode ini telah ada sejak lama bahkan sejak zaman Yunani Kuno. Saat itu, kata dia, seni digunakan sebagai penyeimbang spiritual dan berfokus pada pengungkapan ekspresi. Namun, seiring waktu, art therapy berkembang di Eropa dan Amerika dan menjadi lebih formal.

Terapi seni kemudian menjadi sarana untuk membantu pasien untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diekspresikan dengan kata-kata. Tak sampai di situ, dalam terapi seni, hasil seni yang bersangkutan kemudian dianalisis untuk mengetahui apa yang dirasakan orang tersebut.

Di Indonesia, kata Joko, telah banyak komunitas yang menggunakan terapi seni sebagai proses intervensi dan melakukan pendampingan untuk orang-orang yang memerlukan. Ragam seni yang biasa digunakan dalam art therapy adalah melukis, sculpture atau patung, musik, tari, kolase, dan sebagainya.

“Di sana mereka dilatih, misalnya untuk membuat kreasi seni dari tanah liat, membuat sesuatu kemudian diberi warna. Warna ini juga menunjukkan psikis seseorang. Seni dan psikologis orang kaitannya dengan ekspresi emosional. Melalui seni, seseorang bisa mengungkapkan emosinya, membantu memahami dan menerima perasaan mereka,” terang Joko saat dihubungi Tirto, Kamis (6/2/25).

“Itu ekspresi. Jangan disanggah. Mereka punya imajinasi, harus dianalisa,” imbuhnya.

Tak hanya sebagai sarana ekspresi emosi, teraoi seni juga berdampak dalam mengurangi tingkat stres dan kecemasan seseorang. Hal ini dinamakan sebagai katarsis, saat seseorang berhasil mengeluarkan energi negatif melalui media yang ia buat sendiri.

“Salah satu mahasiswa UIN [Surakarta] pernah membuat skripsi tentang media tanah liat. Ketika saya ikut melihat, mereka membuat macam-macam bentuk sesuai yang mereka inginkan. Ada yang menarik karena ada yang membuat makam. Setelah jadi, mereka ngobrol dengan saya. Ternyata ada yang sesenggukan nangis bikin makam. Ternyata ada perasaan dan ini caranya mengekspresikan kesedihan ditinggal orang tua yang telah meninggal, ia masih belum bisa menerima. Kondisi psikologi ketika nangis mengeluarkan emosi itu dinamakan katarsis,” papar Joko.

Setelah seseorang mengalami katarsis, emosi yang dikeluarkan dapat membuatnya menjadi lebih nyaman dan lega. Joko menyebut tahap ini sebagai kesejahteraan psikologi.

“Itu membuat akhirnya secara psikologis kesejahteraan meningkat. Mood meningkat. Jika kesejahteraan [psikologis] meningkat, bisa membantu penyembuhan dia terutama traumanya,” ujar dosen Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta tersebut.


Terapi Seni bagi Anak

Sebelumnya, Innerheart Studio menyebut bahwa mereka memiliki kegiatan kelas seni bagi anak-anak sekolah dasar. Menurut kacamata psikologis, anak-anak yang masih polos tersebut sangat terbantu dengan terapi seni karena biasanya anak-anak masih sulit untuk mengutarakan keinginannya.

“Anak-anak, mereka punya imajinasi. Anak-anak baru belajar mengekspresikan imajinasi. Untuk anak-anak jangan disanggah. Lebih baik kita tanya kenapa. Mereka akan cerita karena imajinasi mereka adalah apa yang mereka lihat. Dari situ kita menjadi paham. Jadi gambar bisa sangat membantu anak,” kata Joko.

Menurut Joko, seni, khususnya menggambar untuk anak dapat digunakan untuk melihat arah perkembangan anak, dan di satu sisi, anak-anak akan merasa senang.

“Kan, ada unsur tes grafis. Menggambar di situ melihat mengekspresi coretan, melihat arahnya (perkembangan). Anak-anak itu bisa untuk kita asesmen, dan untuk mereka itu menyenangkan,” pungkasnya.


https://retizen.republika.co.id/posts/789230/mengapa-bawang-bisa-membuat-menangis-ternyata-bukan-karena-patah-hati

https://tirto.id/betapa-absurd-dan-adiktif-menonton-drama-romansa-buah-buahan-hukb

https://theconversation.com/id

https://tirto.id/bisnis-tirto

Rabu, 21 Oktober 2026

Menakar Manfaat Kopdes dan MBG bagi UMKM

 




UMKM Hadapi Tekanan karena MBG dan KDMP

JAKARTA. Manfaat ekonomi dari pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) belum dirasakan secara merata oleh pelaku usaha. Justru, ada indikasi bahwa sebagian usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) menghadapi tekanan usaha di tengah pelaksanaan kedua program tersebut.

Survei Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) terhadap 1.806 pelaku UMKM formal dan informal pada Agustus 2026 menunjukkan, sebanyak 22% UMKM mengaku mengalami penurunan kegiatan usaha dengan kehadiran MBG. Sebanyak 26% UMKM informal melaporkan penurunan kegiatan usaha terkait MBG dan hanya 2% UMKM informal yang merasakan kenaikan.

Sementara itu, sebanyak 14% UMKM melaporkan penurunan usaha dengan kehadiran KDMP, lebih tinggi dibandingkan proporsi yang merasakan peningkatan, yakni 3%. Mayoritas responden menilai dampak KDMP terhadap usaha mereka masih stagnan.

"Pelaku usaha yang terdampak sebaiknya dilibatkan, misalnya dengan menjadikan kantin sekolah mitra dapur MBG. Pemerintah juga dapat menjadikan porsi belanja dari UMKM lokal sebagai salah satu indikator kinerja program," kata Peneliti Center of Trade and Investment (CITI) INDEF Dzulfian Syafrian, dikutip Selasa (20/10).

Tanpa keterlibatan dalam ekosistem program, pelaku usaha berpotensi kehilangan sebagian pasar tanpa memperoleh sumber permintaan baru dari belanja pemerintah.

https://nasional.kontan.co.id/news/riset-indef-22-umkm-alami-penurunan-usaha-akibat-mbg-dan-14-akibat-kdmp

https://nasional.kontan.co.id/news/survei-indef-82-umkm-belum-rasakan-peluang-usaha-dari-mbg-begitu-pula-dari-kdmp

https://koran.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-30310514135/riset-indef-program-mbg-dan-kdmp-belum-pertajam-manfaat-umkm-lokal

https://www.mediakarya.id/belanja-ratusan-triliun-mbg-dan-kopdes-merah-putih-belum-mengalirkan-manfaat-ke-umkm-lokal/

https://money.kompas.com/read/2026/10/20/140205226/mbg-dan-kopdes-merah-putih-meluas-menakar-manfaatnya-bagi-umkm-lokal?source=wp_topikpilihan



Sabtu, 13 Desember 2025

Era Kecerdasan

 



Evolusi Orang Pintar

Manila, Jumat sore, 05 Desember.

Sesi penutup di 11th ADB International Education and Skills Forum itu seharusnya menjadi sesi "ngantuk". Sudah hari ketiga. Peserta sudah bersiap meninggalkan markas besar ADB. Koper sudah dikemas.

Tapi wanita muda di panggung itu justru bikin mata terbelalak.

Namanya Lyqa Maravilla. Dia seorang Education Influencer. Judul presentasinya The Future of Education: Learning beyond the Classroom. Gayanya lugas. Slide presentasinya minimalis, tapi menohok.

Dia memaparkan satu slide yang membuat saya termenung. Tentang bagaimana cara manusia mendapatkan ilmu berubah drastis. Seketika saya sadar. Cara kita belajar pun harus ikut berevolusi. Jika tidak, otak kita bukan hanya usang, tapi tidak lagi relevan.

Mari kita bedah evolusi ini satu per satu.

Dulu, kata Lyqa, kita ada di Era Print. Informasi itu on hand. Ada di tangan. Barangnya fisik. Buku, koran, diktat.

Orang pintar di era ini adalah "Si Penghafal". Siapa punya buku, dia raja. Siapa hafal tahun sejarah, dia juara kelas.

Maka, cara belajar terbaik saat itu adalah "Deep Work". Ketekunan. Kita dipaksa membaca dari halaman satu sampai tamat. Tidak ada tombol search. Musuh utamanya adalah kebosanan. Tapi justru di situ kuncinya, otak dilatih untuk fokus dalam durasi lama.

Lalu zaman berganti. Masuk Era Search. Informasi itu on demand. Kapan butuh, ketik. Google menjawab. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu.

Orang pintar di era ini berubah menjadi "Si Pencari". Siapa yang keyword-nya paling jitu, dia menang.

Di sini, cara belajar "menghafal" sudah basi. Cara belajar barunya adalah "Skeptis". Jadilah kurator. Jangan telan informasi bulat-bulat. Bandingkan Sumber A dan Sumber B. Jadilah detektif. Yang tidak jeli memilah, akan mati keracunan informasi sampah.

Sekarang? Kita ada di Era Algorithm.

Lihat gawai kita. Kita tidak lagi mencari informasi. Merekalah yang mencari kita. Algoritma TikTok, Instagram, YouTube menyodorkan berita, hiburan, bahkan pelajaran. Informasi itu handed. Disuapkan.

Bahayanya di era ini bukan sekadar kita jadi pasif. Bahayanya adalah matinya nuansa. Algoritma didesain untuk memberi makan ego kita. Apa yang kita suka, itu yang terus datang. Kita terkurung dalam tempurung kenyamanan (echo chamber).

Orang pintar di era ini seringkali disalahartikan sebagai "Si Viral". Padahal, tantangan sesungguhnya adalah menjadi "Si Waras". Orang yang mampu tetap objektif di tengah gempuran konten yang memancing emosi.

Caranya? Lyqa menawarkan konsep "Reach to Teach". Lawan arus. Sengaja cari hal yang tidak Anda sukai untuk meluaskan perspektif. Dan ajarkan kembali. Karena di era algoritma, kita baru benar-benar paham setelah mencoba mengajarkannya ke orang lain.

Tapi pikiran saya tidak berhenti di slide Lyqa itu. Saya membayangkan apa yang terjadi di depan mata. Lyqa berhenti di era Algoritma. Padahal, dunia sudah berlari lebih kencang. Kita sudah masuk era keempat. Generative AI.

Ini era ChatGPT. Era Claude. Era Copilot. Era DeepSeek. Era Gemini.

Di fase ini, kita tidak lagi sekadar mencari atau disuapi. Kita meminta. "Buatkan saya pidato," "Ringkaskan buku ini," "Jelaskan fisika kuantum dengan gaya anak TK."

Mesin tidak lagi memberikan link. Mesin memberikan jawaban. Dia mensintesis. Dia menjadi asisten pribadi. Orang pintar di era ini bukan lagi yang hafalannya kuat, tapi yang "Pandai Bertanya". Yang prompt-nya bagus, hasilnya bagus.

Cara belajarnya? "Dialog Iteratif". Jadikan AI sebagai lawan tanding (sparring partner). Minta dia mengkritik tulisan kita. Minta dia mendebat argumen kita. Kita belajar dari proses ping-pong pemikiran itu.

Lalu, apa setelah ini?

Para ahli teknologi bilang, kita sedang menuju era kelima, Post-Gen AI. Atau sering disebut Agentic AI.

Kalau Generative AI itu seperti konsultan yang pintar bicara, Agentic AI itu seperti manajer yang punya kaki dan tangan. Nanti, kita tidak perlu mengetik. Cukup perintah lisan ke HP atau kacamata pintar: "Saya mau liburan ke Bali, tolong atur semuanya."

Si AI akan bekerja sendiri. Dia yang booking tiket, sewa hotel, bayar tagihan, hingga negosiasi harga dengan AI milik maskapai. Teknologi menjadi Invisible Interface.

Mari kita tarik garis evolusinya. (1) Era Print. Kita diperbudak Hafalan. Beban otak: Berat. Butuh Ketekunan. (2) Era Search. Kita sibuk Memilah. Beban otak: Sedang. Butuh Ketelitian. (3) Era Algorithm. Kita dinina-bobokan Bias. Beban otak: Ringan. Butuh Kesadaran. (4) Era Gen AI. Kita menjadi "Mandor". Beban otak: Fokus ke Strategi. (5) Era Post-Gen. Kita menjadi Penentu Arah. Beban otak: Pertimbangan Moral (Moral Judgment).

Ada paradok disini.

Ketika mesin mengambil alih segalanya, muncul satu tantangan baru yang krusial. Otak kita terancam sindrom "Popcorn Brain" atau malah “Brain Rot”. Pikiran yang melompat-lompat, tidak tahan fokus, dan kecanduan gratifikasi instan ala video 15 detik.


Maka, di era masa depan ini, justru ada satu keterampilan "kuno" yang kembali menjadi kemewahan dan keunggulan kompetitif. Deep Reading (Membaca Mendalam).

Mengapa Deep Reading menjadi kunci?

Pertama, Membangun Struktur Berpikir. AI bisa memberi kita fakta dan ringkasan dalam hitungan detik. Tapi AI tidak bisa memberi kita "logika berpikir" dan pemahaman sebab-akibat (causality). Hanya dengan membaca buku secara mendalam, otak kita terlatih memahami kompleksitas.

Kedua, Internal Knowledge Base. Kita tidak akan bisa memberi perintah (prompt) yang cerdas kepada AI jika kepala kita kosong. Kreativitas dan intuisi hanya muncul jika kita punya endapan pengetahuan. Membaca mendalam adalah cara mengendapkan ilmu itu.

Tanpa Deep Reading, kita akan memiliki pengetahuan yang luas, tapi dangkal.

Namun, ada realitas pahit. 

Sementara dunia bicara tentang Agentic AI dan Deep Reading, sistem pendidikan kita sebagian masih berkutat di Era Print. Kita masih menguji anak-anak dengan hafalan yang bisa dijawab Gen AI dalam orde detik.

Akan terjadi ketimpangan kognitif. Ada sekelompok kecil orang yang mampu menyuruh AI karena mereka punya kedalaman berpikir, dan ada massa besar yang hanya menjadi objek algoritma AI.

Maka, evolusi ini memaksa kita kembali ke fitrah.

Lyqa menutup presentasinya dengan kalimat indah, "We lose what we don't use, but the world will forget what we don't share".

Saya ingin tambahkan. Di masa depan, "Kepintaran" (Intelligence) itu murah. Mesin memilikinya dalam jumlah tak terbatas. Yang mahal adalah Kesadaran (Consciousness) dan Kebijaksanaan (Wisdom).

Mesin bisa mencarikan data kemiskinan (Search). Mesin bisa membuatkan strategi pengentasan kemiskinan (Gen AI). Mesin bahkan bisa mentransfer bantuan sosial secara otomatis (Post-Gen).

Tapi mesin tidak bisa merasakan pedihnya kemiskinan. Mesin tidak punya empati. Mesin tidak punya niat baik.

Guru masa depan tidak lagi mengajar "apa itu 1+1". Guru mengajar "kenapa kita harus jujur saat berhitung". Sekolah tidak lagi sekadar menguji hafalan sejarah, tapi menguji kebijaksanaan mengambil hikmah agar tragedi tak terulang.

Semakin canggih teknologinya, semakin manusia dipaksa untuk menjadi manusiawi.

Jadi, jangan takut dengan era AI. Takutlah kalau di era secanggih itu, hati kita justru membatu. Takutlah jika kita pintar memerintah mesin, tapi lupa caranya memanusiakan manusia.

Buku - Billion Dollar App



 

Disruptor




 https://www.kompas.id/artikel/qris-dorong-posisi-strategis-indonesia-di-panggung-global?open_from=Riset_Page



Artikel Abai Terhadap Data

  https://docs.google.com/document/d/1kjUaHpeFyB8y_YD2hnxDFhI9mky7PrT7/edit?usp=drive_link&ouid=112365073285716859334&rtpof=true...