Brett King meneropong masa depan perbankan dunia dalam satu
dekade ke depan. Ramalan ini didasarkan pada perkembangan pesat teknologi
yang terjadi. Melalui buku ini, Brett King berupaya menjelaskan model bisnis bank
dalam ekosistem ekonomi baru.
Disrupsi berbasis teknologi terjadi begitu cepat dan
membawa perubahan mendasar di berbagai lini bisnis, termasuk jasa keuangan.
Keberlanjutan tren ini mendorong perilaku baru konsumen dalam mengakses layanan
keuangan dan perbankan.
Kini, layanan perbankan yang melekat dengan nasabah secara real time menjadi suatu kebutuhan penting dan
mendasar. Hambatan nasabah mengakses layanan perbankan bukan lagi terbatas pada
kantor fisik dan segala aturan yang berlaku di dalamnya.
Buku Bank 4.0 karya Brett King mencoba mengupas
bagaimana perubahan besar yang terjadi pada industri ini. Selain itu, Brett
juga membahas mengenai peta jalan Bank 4.0. Fokus pada layanan digital menjadi
strategi dalam menggeser pangsa pasar bank tradisional.
Bank-bank harus membuat perubahan penting demi
menyelamatkan bisnisnya. Bank harus merespons transformasi besar yang sedang
berlangsung. Artinya, bank konvensional perlu mewaspadai perkembangan di era
4.0.
Bank 4.0 merupakan cara kerja, keterampilan, fungsi, dan
kecakapan baru yang tak terpikirkan oleh bank sebelumnya. Kunci pergeseran
dalam Bank 4.0 adalah teknologi mentransformasi cara manusia berhubungan dengan
bank. Lebih dari sekadar layanan jasa simpan pinjam, pembayaran, dan pemberian
kredit. Namun, telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari
Empat tahap
Iklan
Iklan
Melalui buku ini, Brett membagi perkembangan
tahapan bank dalam empat seri. Bank 1.0 dalam seri pertama membahas kehadiran
perbankan perdana selama periode 1472 hingga 1980. Salah satu fokus pembahasannya
adalah kantor sebagai pusat kegiatan dalam melayani nasabah.
Periode kedua era Bank 2.0 muncul dengan
kehadiran layanan perbankan di luar kantor. Perubahan wajah perbankan ini,
antara lain, ditandai dengan pengurangan layanan kantor dan jam kerja kantor
bank yang digantikan mesin otomatis anjungan tunai mandiri (ATM) dan akselerasi
layanan melalui internet banking.
Selanjutnya, babak Bank 3.0 terjadi pada
periode 2007 hingga 2017. Era ini ditandai dengan munculnya ponsel pintar
atau smartphone. Munculnya produk pintar ini membuat layanan
bank dapat dilakukan oleh nasabah kapan saja di mana saja. Pembayaran melalui
ponsel (mobile payment) dan layanan peer to peer (P2P) dapat diakses dengan mudah
hanya menggunakan ponsel pintar.
Sesudah 2017, perbankan masuk ke dalam fase
Bank 4.0. Melanjutkan perkembangan di era sebelumnya, Bank 4.0 ditandai dengan
layanan perbankan tanpa friksi yang dapat diakses melalui berbagai teknologi
dengan mengandalkan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Titik berat pada faktor kemudahan dan kecepatan membuat fondasi
Bank 4.0 jauh berbeda dengan era Bank 1.0. Hal ini membuat ketentuan dan
prosedur perbankan yang rapi dan ketat mengalami perubahan besar.
Bank di era 4.0 dituntut bergerak cepat dengan konsekuensi
melonggarkan aspek-aspek profitabilitas, risiko kredit, rasio pengembalian
ekuitas, dan aturan lainnya. Dengan adanya perubahan mendasar ini, Brett juga
berupaya membangun ulang definisi perbankan pada lini masa 4.0 tersebut.
Menurut dia, keahlian bankir di masa depan akan ditopang
kemampuan teknolog yang mampu menghadirkan layanan perbankan kepada nasabah
menggunakan segala channel digitalnya. Terlebih kompetitor nonbank
berskala besar ikut meramaikan pasar perbankan.
Tanpa penyesuaian sistem perbankan yang lebih luwes kepada
nasabah, bukan tidak mungkin kompetitor nonbank tersebut dapat menggeser bank
yang tetap beroperasi dengan model Bank 1.0, Bank 2.0, dan Bank 3.0.
Revolusioner
Perkembangan fase perbankan tidak dapat dilepaskan dari
berkembangnya teknologi informasi dan internet. Namun, tidak serta-merta
perkembangan tersebut langsung diadopsi ke dalam indutri perbankan. Salah satu
contohnya adalah pembukaan rekening baru.
Perkembangan teknologi internet yang sudah berjalan lebih
dari 25 tahun masih minim digunakan untuk memberikan kemudahan dalam membuka
rekening baru. Banyak perbankan di negara-negara di dunia yang masih belum
menerapkan pembukaan rekening bank secara daring atau melalui ponsel.
Keterikatan artefak yang selama ini menjadi ciri khas
perbankan menjadi faktor utama belum diterapkannya perubahan tersebut. Sejak
awal praktik perbankan dimulai, tanda tangan nasabah di atas kertas yang
menjadi simbol pembeda secara unik dan faktor keamanan perbankan. Konsekuensi
dari prosedur ini, nasabah dituntut harus datang ke kantor bank untuk membuka
rekening.
Brett melihat hal ini sebagai celah adaptasi perbankan
untuk menghadirkan utilitas mendasar perbankan masuk dalam teknologi. Aspek
teknologi sangat memungkinkan menyingkirkan hambatan prosedur tersebut.
Melalui teknologi, perbankan dapat menawarkan layanan semantic banking yang dapat diakses dari mana saja
dan kapan saja. Semantic banking merupakan fungsi bank yang telah
menyatu dengan gaya hidup masyarakat yang ingin mengakses produk dan jasa
secara mudah dan praktis dengan bantuan internet.
Karena itu, Brett melihat fisik produk menjadi kurang
relevan untuk saat ini. Lambang-lambang fisik perbankan, seperti mata uang fisik,
kartu debit, atau kartu kredit, lambat laun akan tersisih karena berjarak atau
memberikan hambatan bagi nasabah.
Brett mencotohkan layanan produk Amazon Echo atau Google
Home menjadi contoh bagaimana perilaku transaksional dan perdagangan
berdasarkan kecerdasan buatan atau AI dapat dilakukan. Kedua produk tersebut
dilakukan hanya melalui suara. Dengan teknologi tersebut, transaksi dapat
dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.
Tanpa kantor
Iklan
Iklan
Selanjutnya, Brett juga menunjukkan contoh
perubahan konsep desain sistem perbankan di Amerika Serikat dengan di Kenya dan
China. Bank-bank di AS dipandang tidak mudah mengadopsi fase 4.0 karena
berpegang erat dengan regulasi dan sistem.
Namun, hal demikian tidak ditemukan di Kenya
dan China. Terobosan besar dilakukan industri perbankan Kenya dalam 10 tahun
terakhir. Pada 2005, sekitar 70 persen masyarakat Kenya tidak memiliki rekening
bank ataupun uang digital lain.
Namun kondisi tersebut berubah setelah muncul
inovasi layanan mobile money dari perusahaan
telekomunikasi yang diberi nama M-Pesa. Tingginya kepemilikan telepon seluler
masyarakat Kenya dimanfaatkan untuk memperluas layanan telekomunikasi.
Pelanggan MPesa bisa melakukan transfer,
membayar tagihan, membeli barang, membayar transportasi umum, hingga
mendapatkan fasilitas kredit mikro. Sejak 2008, M-Pesa mencatat rekor jumlah
rekeningnya lebih banyak dibandingkan dengan rekening pada bank konvensional.
Inklusi keuangan M-Pesa sangat masif membuat
tekanan pada bank-bank besar. Namun, pada akhirnya perbankan melebarkan sayap
melalui kerja sama. Adanya kerja sama dengan M-Pesa membuat perbankan dapat
mencapai tiga kali lipat target nasabahnya dalam setahun.
Berkembangnya layanan serupa terjadi di China.
Pasar pembayaran digital melalui ponsel mengalami pertumbuhan pesat di China.
Volume transaksi mobile payment melambung
tinggi dalam waktu dua tahun.
Pada 2015, volume transaksi 1,45 triliun dolar
AS. Nilai tersebut meningkat menjadi 17 triliun dollar AS pada 2017. Bahkan,
pada 2018, mobile payment di China
mengungguli pembayaran menggunakan kartu debit dan kartu kredit.
Menariknya, pembayaran digital ini didominasi
oleh pembayaran nonbank. Sebesar 92 persen mobile payment di
China dilayani oleh dua perusahaan tekfin, yaitu Ant Financial (Alipay) dan Tencent
(WeChat/WePay).
Tren kenaikan ini diperkirakan akan terus
bertambah. Pada 2030 nanti, nilai kapitalisasi pasar Ant Financial diprediksi
akan mendekati 1 triliun dollar AS. Jumlah tersebut empat kali lebih besar
daripada ICBC of China, bank terbesar di dunia sekarang.
Padahal, Ant Financial bukanlah bank. Namun,
institusi tersebut berhasil membangun ekosistem baru yang mengubah utilitas
perbankan ke dalam ponsel.
Dua fenomena yang terjadi di Kenya dan China
disebut Brett sebagai cara kerja perbankan di era 4.0. Perbankan harus
mengembangkan dirinya seperti perusahaan rintisan tekfin yang berhasil
menciptakan pengalaman transformasi yang lebih murah dan cepat kepada nasabah.
Layanan tersebut juga menjadi contoh layanan
tanpa gerai alias branchless banking.
Itu merupakan prinsip nonkonvensional lembaga keuangan untuk memperluas
jangkauan layanan. Uniknya, hal itu digerakkan oleh pemain baru di luar bank.
Menuju era 4.0
Pemain baru seperti start up tekfin mampu mendominasi model layanan
ini karena memiliki keunggulan terbebas dari sistem dan regulasi ketat yang
membatasi perkembangan jasa finansial. Hal itu karena setiap tekfin di dunia
memiliki kesamaan misi dasar, yaitu menghilangkan friksi yang terasosiasi
dengan jasa finansial saat ini.
Brett mengutip pandangan Jack Ma sebagai pendiri start up tekfin terbesar di dunia, yakni ”Jika
ingin tumbuh dengan cepat, maka haruslah diraih melalui cara-cara digital.”
Cara-cara ini sekaligus menjadi kesempatan bagi perbankan agar tetap berkembang
di era 4.0. Brett menawarkan empat opsi bagi bank dalam merespons perubahan
ini.
Pertama, tidak melakukan apa-apa. Artinya, perlahan-lahan
kinerjanya terus menurun dan akan sangat memakan biaya. Boleh dibilang ini merupakan
opsi paling minimalis bagi perbankan karena lebih banyak bertahan dengan
strategi pemasaran dan produk yang selama ini ada.
Opsi kedua adalah bermitra dengan tekfin. Kolaborasi ini
merupakan langkah terbaik karena bank bisa bereksperimen dengan teknologi baru
secara lebih cepat dan hemat dibandingkan dengan bekerja sendiri.
Ketiga, mengakuisisi tekfin. Opsi ini memang lebih cepat
dalam menyerap teknologi, tetapi lebih mahal dan sangat menantang karena akan
menyatukan kultur kerja yang berbeda. Keempat, menjiplak inovasi tekfin.
Penjiplakan atau pengekor bisa menimbulkan biaya yang besar dan lambat dalam
mengadopsi inovasi.
Namun, memahami opsi yang seharusnya dilakukan belum
menjamin keberlangsungan bisnis perbankan. Butuh komitmen awal sebagai jurus bank
agar dapat bertahan hidup. Jika mencermati fenomena yang sedang berlangsung,
terlebih keberhasilan layanan keuangan digital di Kenya dan China, konsep
prinsip dasar kembali diingatkan sebagai elemen kuncinya.
Menurut Brett, utilitas inti perbankan lewat teknologi
harus ada dalam sistem baru perbankan. Utilitas dasar perbankan ini dapat
melayani nasabah secara real time. Perubahan paradigma fundamental
merupakan inti perubahan dari Bank 4.0.
Pengalaman nasabah dalam mengakses layanan finansial yang
melekat dengan kehidupan sehari-hari diperkirakan akan menjadi masa depan jasa
finansial. Platform bank akan terdiferensiasi lewat inovasi dalam memanjakan
nasabah. Hal inilah yang akan menghilangkan hambatan layanan bank dan mendorong
kerja inovatif yang mematahkan distorsi dengan nasabah.
Baca juga: Momentum Pemulihan Ekonomi Pascapandemi
Di akhir tulisannya, Brett King mengutarakan prediksinya.
Bank terbesar di dunia pada dekade selanjutnya diramalkan pada sebuah institusi
yang mengantarkan teknologi ke nasabahnya. Pada 2025, bank terbesar di dunia
akan jatuh pada perusahaan teknologi, seperti Ant Financial, yang memiliki daya
jangkau dan skala yang besar.
Brett sudah menunjukkan peta jalan menuju Bank 4.0.
”Apabila tidak berlari cepat dan mengubah segalanya dari dasar, maka harus
bersiap untuk mengalami tahun-tahun terberat ke depannya.”
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar